Sabtu, 21 Mei 2011

Usaha-usaha mengatasi kenakalan remaja

Usaha pencegahan dan penanggulangan masalah kenakalan dan kriminalitas punya hubungan erat dan harus senantiasa dilakukan kerja sama untuk mencapai tujuan, karena kenakalan remaja banyak dipengaruhi dari luar dirinya yaitu lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah. Peran orang tua atau keluarga, sekolah dan masyarakat sangat diharapkan dalam rangka membantu para remaja untuk mengontrol dan mengelola emosinya kepada penyaluran yang positif, maka:

1. Keluarga atau orang tua.

Keluarga yang baik dan harmonis sangat menentukan terciptanya lingkungan yang baik dan suasana kekeluargaan menjadi ketenangan hidup. Orang tua diharapkan dapat memberikan lingkungan yang kondusif terhadap perkembangan emosi remaja, memberikan perhatian dan kasih sayang, meningkatkan komunikasi dua arah, siap menerima keluhan dan mencarikan jalan keluar terhadap permasalahan yang dialami remaja akan memberikan suasana yang sejuk bagi remaja.

Tidak memberikan tuntutan yang berlebihan dan menghindari larangan yang tidak terlalu penting serta memberikan pengawasan dan pengarahan secukupnya merupakan hal yang menyenangkan bagi remaja. Pembatasan dan tuntutan terhadap remaja hendaknya disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan remaja. Memberikan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan porsinya.

Penegakan disiplin dilakukan dengan bijaksana. Penerapan disiplin yang mendidik disertai dengan suatu pengertian terhadap makna disiplin tersebut merupakan pilihan yang baik. Disiplin yang terlalu kaku atau keras, disertai hukuman badan dapat menimbulkan penolakan atau bahkan pemberontakan dari remaja. Hal ini tentu saja dapat menimbulkan ha-hal yang tidak diinginkan semua pihak.

Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah sikap konsisten dari orang tua. Ketidak konsistenan orang tua dapat menimbulkan kebimbangan atau kebingungan remaja dalam perilakunya. Remaja akan mengalami kesulitan dalam menarik simpulan atau mengambil pelajaran dari apa-apa yang telah diajarkan oleh orang tuanya. Selain itu diperlukan pula sikap yang tenang, berwibawa dan arif bijaksana dalam menghadapi luapan emosi remaja oleh para orang tua maupun pendidik. Sehingga dapat diambil kesimpulan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan yaitu memberi tugas sesuai kemampuan, mendorong minat anak, mengembangkan bakat anak, menciptakan suasana edukatif, dialog saling terbuka, melatih displin, memperhatikan kegiatan yang dilakukan setiap harinya, dan penanaman nilai-nilai religius.

2. Sekolah

Sekolah tempat dimana remaja menghabiskan sebagian waktunya juga diharapkan dapat menyediakan tempat untuk mentransfer ilmu pengetahuan. Sekolah diharapkan mampu menjadi tempat yang menyenangkan bagi remaja dengan menyediakan fasilitas yang bersifat rekreatif dan positif, sehingga remaja dapat menyalurkan aktivitasnya. Demikian juga pembuatan peraturan-peraturan dan penegakan disiplin di sekolah diharapkan dapat dilakukan dengan bijaksana sehingga mendapat tanggapan yang positif dari para peserta didiknya. Tak ketinggalan peran para gurudi sekolah. Guru diharapkan mampu menjadi orang tua kedua di sekolah. Di samping memberikan ilmu pengetahuan juga memberikan teladan yang baik. Membina hubungan yang baik dengan peserta didik, sabar, pengertian, siap membantu peserta didik yang mengalami kesulitan atau permasalahan, tidak arogan dan sewenang-wenang merupakan sikap yang didambakan oleh para peserta didik untuk melakukan tugas dan kewajibannya dalam rangka mencapai prestasi yang tinggi. Selain itu sekolah juga bertugas mengadakan kerja sama antara orang tua murid dan guru secara teratur untuk membicarakan persoalan yang menyangkut anak didiknya.

3. Masyarakat

Masyarakat diharapkan dapat menjadi wahana yang baik bagi perkembangan emosi remaja. Menyediakan fasilitas untuk penyaluran emosi remaja secara positif dan memberi contoh yang baik atau memberikan norma-nora dalam mengontrol atau mengelola emosi. Masyarakat perlu mengadakan pengawasan terhadap perkumpulan pemuda, peninjauan dan penindakan secara tegas terhadap peredaran buku-buku porno, komik, majalah, film dan lain-lain yang merugikan masyarakat. Juga mengadakan ceramah, diskusi yang bertemakan remaja dan permasalahannya. Mengembangkan klub-klub olahraga yang biayanya terjangkau oleh masyarakat berpenghasilan kecil. Pengembangan Jasa-jasa Konsultasi Psikologi, Konselor, dan lain-lain.

Kenakalan remaja macam apapun mempunyai akibat negatif baik bagi masyarakat umum maupun bagi diri remaja sendiri. Tindakan penanggulangan masalah kenakalan dapat dibagi dalam 3 tindakan: (Singgih D. Gunarso, 1990:150)

1. Tindakan preventif

Tindakan preventif yakni segala tindakan yang bertujuan mencegah timbulnya kenakalan-kenakalan. Tindakan preventif untuk mencegah kenakalan remaja dapat dibedakan menjadi dua yaitu:

1). Usaha pencegahan timbulnya kenakalan remaja secara umum.

a. Berusaha mengenal dan mengetahui ciri umum dan khas remaja.

b. Mengetahui kesulitan-kesulitan yang secara umum dialami oleh para remaja. Kesulitan-kesulitan manakah yang biasanya menjadi sebab timbulnya penyaluran dalam bentuk kenakalan.

c. Usaha pembinaan remaja yang meliputi:

1. Menguatkan sikap mental remaja supaya mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Misalnya dengan menserasikan antara aspek rasio dan aspek emosi

2. Memberikan pendidikan bukan hanya dalam penambahan pengetahuan dan ketrampilan, namun juga pendidikan mental dan pribadi melalui pengajaran agama, budi pekerti dan etika.

3. Menyediakan sarana-sarana dan menciptakan suasana yang optimal demi perkembangan pribadi yang wajar.

4. Usaha memperbaiki keadaan lingkungan, lingkungan sekitar, keadaan sosial keluarga, maupun masyarakat dimana terjadi banyak kenakalan remaja.

2). Usaha pencegahan timbulnya kenakalan remaja secara khusus.

Di sekolah, pendidikan mental ini khususnya dilakukan oleh guru, guru pembimbing atau psikolog sekolah bersama para pendidik lainnya. Usaha para pendidik harus diarahkan terhadap si remaja dengan mengamati memberikan perhatian khusus dan mengawasi setiap penyimpangan tingkah laku remaja di rumah dan di sekolah. Pemberian bimbingan terhadap para remaja dapat berupa:

a. Pengenalan diri sendiri: menilai diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain

b. Penyesuaian diri: mengenal dan menerima tuntutan dan penyesuaian diri dengan tuntutan tersebut

c. Orientasi diri: mengarahkan pribadi remaja de arah pembatasan antara diri pribadi dan sikap sosial dengan penekanan pada penyadaran nilai-nilai sosial, moral dan etik.

Bimbingan dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu:

a. Pendekatan langsung yakni bimbingan yang diberikan secara pribadi pada si remaja itu sendiri. Melalui percakapan mengungkapkan kesulitan si remaja dan membantu mengatasinya.

b. Pendekatan melalui kelompok dimana ia sudah merupakan anggota kumpulan atau kelompok kecil tersebut:

1. Memberikan wejangan secara umum dengan harapan dapat bermanfaat.

2. Memperkuat motivasi atau dorongan untuk bertingkah laku baik dan merangsang hubungan sosial yang baik.

3. Mengadakan kelompok diskusi dengan memberikan kesempatan mengemukakan pandangan dan pendapat para remaja dan memberikan pengarahan yang positif.

4. Dengan melakukan permainan bersama dan bekerja dalam kelompok di pupuk solidaritas dan persekutuan dengan pembimbing.

2. Tindakan represif

Usaha menindak pelanggaran norma-norma sosial dan moral dapat dilakukan dengan mengadakan hukuman terhadap setiap perbuatan pelanggaran.

a. Di rumah dan di dalam lingkungan keluarga, remaja harus menaati peraturan dan tata cara yang berlaku. Disamping peraturan tentu perlu adanya semacam hukuman yang dibuat oleh orang tua terhadap pelanggaran tata tertib dan tata cara keluarga. Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa pelaksanaan tata tertib dan tata cara keluarga harus dilakukan dengan konsisten. Setiap pelanggaran yang sama harus dikenakan sanksi yang sama. Sedangkan hak dan kewajiban anggota keluarga mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan dan umur. Seorang anak berumur 7 tahun sudah harus berada di rumah sebelum maghrib. Seorang remaja mungkin saja pada waktu senja masih berada dalam perjalanan ke rumah setelah mengikuti aktivitas ekstra kurikuler. Sedangkan seorang remaja lanjut pada waktu senja masih dalam perjalanan menuju jursus bahasa misalnya.

b. Di sekolah dan lingkungan sekolah, maka Kepala Sekolah dan guru yang berwenang dalam melaksanakan hukuman terhadap pelanggaran tata tertib sekolah, misalnya dalam pelanggaran tata tertib kelas dan peraturan yang berlaku untuk pengendalian suasana pada waktu ulangan atau ujian. Akan tetapi hukuman yang berat seperti “skorsing” maupun pengeluaran dari sekolah merupakan wewenang Kepala Sekolah. Guru dan staf pembimbing bertugas menyampaikan data mengenai pelanggaran maupun akibatnya. Pada umumnya tindakan represif diberikan dalam bentuk memberikan peringatan secara lisan maupun tertulis kepada pelajar maupun orang tua, melakukan pengawasan khusus oleh Kepala Sekolah dan team guru atau pembimbing dan melarang bersekolah untuk sementara atau seterusnya tergantung dari macam pelanggaran tata tertib sekolah yang telah digariskan.

3. Tindakan kuratif dan rehabilitasi

Tindakan kuratif dan rehabilitasi dilakukan setelah tindakan pencegahan lainnya dilaksanakan dan diangap perlu mengubah tingkah laku si pelanggar remaja itu dengan memberikan pendidikan lagi. Pendidikan diulangi melalui pembinaan secara khusus, hal mana yang sering di tanggulangi oleh lembaga khusus maupun perorangan yang ahli dalam bidang ini. Dari pembahasan mengenai penanggulangan masalah kenakalan remaja ini perlu ditekankan bahwa segala usaha harus ditujukan ke arah tercapainya kepribadian yang mantap, serasi dan dewasa. Remaja diharapkan akan menjadi orang dewasa yang berpribadi kuat, sehat badani dan rokhani, teguh dalam kepercayaan dan iman sebagai anggota masyarakat, bangsa dan tanah air.

Usaha untuk mengatasi dan mencegah supaya anak jangan nakal atau menjadi anak nakal terletak di lingkungan keluarga. Keluarga merupakan wadah pembentuk pribadi-pribadi anak yang paling dasar, sangat fundamental dan berperan vital bagi pendidikan anak. Bila usaha pendidikan pada keluarga gagal maka akan terbentuk seorang anak yang cenderung melakukan tindakan kenakalan dalam masyarakat. Keluarga dinyatakan gagal dalam mendidik anak bila: 1. Tidak adanya keharmonisan dalam keluarga. 2. Perhatian orang tua yang kurang atau tidak ada sama sekali. 3. Status ekonomi yang kurang atau miskin. 4. Jumlah anggota keluarga yang terlalu banyak sehingga kurang mendapat perhatian dari orang tua.

Semua bentuk diatas pada intinya anak bisa di kontrol atau di kendalikan jangan sampai nakal yaitu bagaimana orang tua setiap harinya menyempatkan memperhatikan bentuk kegiatannya, kebutuhannya, teman sepermainannya, kebiasaan-kebiasaan yang baik dilakukan atau tidak. Walaupun keluarganya itu miskin, anggota keluarga yang banyak, keakraban antar anggota keluarga yang kurang, dan sebagainya.

1 komentar:

Lailatul Nur Aviva mengatakan...

terima kasih ,,,,, berkat kamu tugas saya selesai

Poskan Komentar